Tampilkan postingan dengan label brutal death metal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label brutal death metal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2015

Mannequin - Promo 2008 (2008)


(Bahasa Indonesia)
Para metalhead mungkin lebih mengenal band yang satu ini sebagai Plasmoptysis. Jika kalian tidak tahu tentang Plasmoptysis, biar saya ceritakan sejarah singkatnya. Mereka pertama kali berdiri pada tahun 2006 dengan nama Arasy, lalu berganti nama menjadi Mannequin, sebelum akhirnya bermetamorfosa menjadi Plasmoptysis pada tahun 2008. Dibawah nama Mannequin, mereka hanya merilis satu album promo pada tahun yang sama. Ngomong-ngomong, namanya sekilas mengingatkan saya pada band brutal death metal legendaris, Brodequin. Kebetulan sekali, musik yang dimainkan Mannequin memiliki beberapa kemiripan dengan musik yang dimainkan Brodequin.

Kualitas produksinya kurang lebih sama dengan kualitas produksi lo-fi pada album "Instruments of Torture"-nya Brodequin. Saya sangat menyukainya. Sang drummer juga bermain dalam kecepatan tinggi, namun tidak melulu bermain dengan cepat, yang diiringi dengan hentakan-hentakan simbal yang cukup kuat, seakan-akan kepala kita dipukul berulang kali dengan gada paling keras hingga otak kita meledak keluar dari kepala, mirip dengan performa Chad Walls. Memang, snare-nya sedikit bermasalah, namun tidak masalah selama tidak terlalu mengganggu. Vokal growl-nya juga cukup berat dan tanpa ampun, walaupun saya harap bisa lebih baik lagi.

Permainan bass-nya lebih sering mengikuti permainan gitar, namun ada kalanya ia terdengar sendiri dan memberikan kesan yang lebih berat pada musik yang mereka mainkan. Terakhir adalah permainan gitarnya. Sang gitaris menyuguhkan kita perpaduan brutal death/grind ala Brodequin dan slamming brutal death metal yang cukup umum dimainkan band-band Indonesia.

Satu-satunya masalah yang saya miliki adalah klip-klip audio yang diambil dari film-film. Saya tak pernah menyukainya sejak pertama kali. Saya dapat memakluminya jika mereka hanya menaruhnya sebagai bagian dari intro dan/atau pada awal paling tidak satu lagu lain, namun mereka menaruh pada awal dan akhir lagu "Darah Tumbal". Mungkin ini hanya masalah saya saja, anda bisa saja tidak menghiraukan klip-klip audio tersebut.

Selain masalah klip audio, Mannequin menyuguhkan kita perpaduan apik antara brutal death/grind a la Brodequin dengan slamming brutal death metal yang cukup unik. Saya sarankan anda mendengarkannya secepat mungkin, walaupun ini hanya album promo saja.

(English)

Many metalheads may know this band more as Plasmoptysis. In case you don't know, they originally formed in 2006 under the name Arasy, then changed their name into Mannequin, and eventually became Plasmoptysis by 2008. When they were still called Mannequin, they only released a promo album at the same year. That name sorta remembers me of Brodequin, by the way, and I need to know if these guys indeed sound like Brodequin.

The production has that gritty, yet still audible quality, similar to Brodequin's "Instruments of Torture". God, do I love it very much. The drummer also plays ridiculously intense blast beats similar to those played by Chad Walls. As with Chad Walls himself, the drummer accompanies those blast beats with pulverizing cymbal crashes, as though a nail bat hits your head so hard that your brain explodes out from your head. Sure, the snare has that thudding sound which is common among Indonesian bands, but the performance makes up for it.

The guttural vocals are also as brutal and unrelenting as those of Jamie Bailey's, although I wish it was deeper. The bass mostly follows the guitars, but there are times where it shows up and makes the music heavier. Speaking about the guitars, the guitarist plays a shitload of brutal death/grind riffs which would make Mike Bailey proud. Unlike Mike Bailey, however, he plays the chugging riffs more often, making the guitar play feel a little bit more like slamming brutal death metal than brutal death/grind.

The only thing I didn't like was the audio clips. I never like them since forever. I have no problem if they put them as part of the intro or at the beginning of at least one song. But if you listen to the track "Darah Tumbal", you'll be disappointed by how short the actual music is, compared to the audio clips put at the beginning and the end of the track.

Apart from the audio clips, I really love this album. Even if it's just a promo album, it's one of a few outstanding promo albums I ever know. If you're a fan of Brodequin, then search this album via Google. I guarantee you, this one won't disappoint you.

Senin, 06 April 2015

Sperma Reject - Hellcroot (2014)

Cover-nya WOW sekali... / So shocking, such controversy.
(Bahasa Indonesia)
Saya tidak pernah menyukai band-band brutal death metal yang mengusung tema pornografi. Oke, mungkin ada beberapa pengecualian, seperti Total Anal Infection dan Rezume, namun tetap saja saya tidak menyukai band-band brutal death metal berembel-embel porno. Kalian boleh saja bertanya-tanya, "Tapi tujuan asli dari metal kan menyinggung perasaan orang sebanyak-banyaknya!? Jadi, tema pornografi dan hal-hal seksual itu wajar-wajar saja!". Sebelum kalian melanjutkan, tidak, saya sama sekali tidak mempermasalahkan tema-tema tersebut. Saya TAHU bahwa menyinggung perasaan orang sebanyak-banyaknya memang merupakan tujuan asli, namun band-band brutal death metal berembel-embel porno biasanya bermain secara asal-asalan.

Dan kali ini, kita kedapatan satu lagi band yang memiliki ciri-ciri tersebut; Sperma Reject dari Tangerang. Mereka merilis EP mereka yang bertajuk Hellcroot pada 7 Juli tahun lalu (2014). Pertama, kita mulai dengan produksinya. Dibandingkan dengan band-band seperti Radang Kelamin dan Enmity, produksinya masih agak mendingan, namun tetap saja kualitasnya kentara rendah. Satu-satunya hal yang bagus dari produksinya adalah gitar bass yang terdengar dengan jelas. Dan jangan menanyakan saya tentang drum-nya. Saya benci suaranya. Amat, sangat benci. Jika kalian pernah mendengar drumming Radang Kelamin, maka drumming dari Sperma Reject bisa dijelaskan seperti ini; setali tiga uang dengan drumming Radang Kelamin. Snare-nya terdengar seperti tong sampah, bass drum-nya terdengar seperti mesin tik. Tidak ada yang bagus dari drumming-nya, kecuali mungkin sedikit sentuhan simbal yang dominan.

Mungkin, satu-satunya hal yang saya sukai dari Hellcroot adalah bass-nya yang dapat terdengar cukup jelas. Setidaknya, mereka tidak memperlakukan bass-nya sebagai pemanis belaka. Memang, bass-nya hanya mengikuti permainan gitar, namun terdengar dengan cukup jelas.

Vokalnya juga terdengar biasa-biasa saja dan terdengar sama seperti ribuan band brutal death metal lainnya di luar sana. Hanya guttural growl yang terdengar brutal, tapi tidak ada kualitas yang memukau. Band-band brutal death metal Indonesia dikenal dengan vokalnya yang memiliki kualitas memukau, jadi bisa dikatakan Sperma Reject sangat mengecewakan untuk sebuah band brutal death metal Indonesia. Dan yang terakhir adalah permainan gitarnya. Sekilas, permainan gitarnya memang terdengar lumayan, namun jika kalian mendengarkan Hellcroot mulai awal sampai akhir, kalian akan menyadari satu hal; permainan gitarnya terdengar sama saja dari lagu pertama sampai terakhir. Gitarisnya sama sekali tidak tertarik untuk memberi variasi pada permainan gitarnya.

Ini adalah satu lagi bukti bahwa skena brutal death metal Indonesia masih memiliki band-band macam poser yang tidak memedulikan kualitas dalam bermain metal. Hindari EP ini sebisa mungkin.

https://spermareject.bandcamp.com/releases

(Laman hanya diberikan sebagai tanda bukti musikalitas dari Sperma Reject. Kunjungi laman di atas dengan menanggung resikonya sendiri.) 

(English)
I never like Indonesian brutal death metal bands which sing about porn and sex. Well, there are exceptions, like Total Anal Infection and Rezume, but they're very few and far between. You may call me a crybaby SJW for not liking those bands, but I'll have you know one thing; these bands sacrifice everything that defines Indonesian brutal death metal as you all know in order to achieve "br00tal" songwriting and gather as much adolescent kids as they can. In a nutshell, they are an Indonesian equivalent to Enmity.

In case you do not believe what I say, just check this band called Sperma Reject from Tangerang. They released their EP, Hellcroot on June 7th, last year. First, we'll start with the production. While it sounds nowhere as awful as Enmity, it still sounds remarkably awfully muffled. Perhaps, the audible bass is the only redeemable quality from it. The drumming is more awful than the production. You know how much Indonesian brutal death metal bands have a hollow thudding sound when it comes to the snare drum? This time, it's even worse. Since it's the loudest part of the instruments, you can predict just how awful it sounds. Add that to the Enmity-esque mentality ("BLAST ALL THE TIME"), and you get the drumming of Sperma Reject. But hey, nice job adding a lot of cymbals, though. I give you +1 for that.

The bass is perhaps the only thing I like from the EP. It's pretty audible and nice. Even if it only follows the guitars most of the time, it still sounds nice.

The vocals sound awfully generic and uninteresting. They sound indistinguishable from many other brutal death metal bands. The vocalist obviously does nothing to impress the listeners at all. Most Indonesian brutal death metal bands are known for the unique approach on vocals, so this one just disappoints me a lot. Worst of all is the guitar work. At first, it may sound pretty okay, given how talented Indonesian metal guitarists are. But if you listen to this EP from the beginning to the end, you will realize one thing; the guitars sound the same all over the time. Sure, they don't sound inane like Enmity, but the Enmity-esque mentality makes it sound kinda atrocious.

This is one proof that the Indonesian brutal death metal scene, not unlike many other metal scenes, has a bunch of poseurs which do not give shit about quality. Avoid this EP at all.

https://spermareject.bandcamp.com/releases

(I only included the link to show you just how awful this band sounds. Click it at your own risk.)

Kamis, 19 Februari 2015

Kerangkenk - Onslaught of Psychopath (2014)

Jomblo ngenes beraksi di hari Valentine, membunuhi semua pasangan sebisanya. (This is why you should never let a forever alone guy walk around the streets during Valentine's Day; he will kill every couple he sees)
(Bahasa Indonesia)

Akhir-akhir ini, saya mulai melihat tren di kalangan death metal Indonesia berupa band-band yang cenderung memiliki suara old-school, dengan Kerangkenk sebagai band yang paling memukau saya. Sebagai metalhead anak bawang, saya cukup terkejut ketika tahu bahwa mereka sudah ada sejak tahun 1994, walaupun pada tahun 2001 bubar dan berdiri lagi pada tahun 2006. Memikirkan tentang perjalanan Kerangkenk yang sangat jauh, saya berpikir bahwa perjalanan mereka banyak menumpahkan darah, keringat, dan air mata. Saya rasa perjuangan mereka tidak sia-sia sama sekali, karena mereka telah membuktikan bahwa mereka adalah salah satu band death metal tertangguh di Indonesia dengan album debut sekaligus mahakarya mereka sejauh ini, "Onslaught of Psychopath".

Kover album ini digambar oleh Gustav Insuffer (nama asli Gustaman Hendi), yang juga pernah menggarap kover album "Saguru, Saelmu, Tong Ngaganggu" oleh Undergod dan "Suffering of Human Decapitated" oleh Turbidity, dll. Seperti halnya garapannya yang lain, dia menggambarkan sebuah suasana mencekam nan berdarah yang dikemas dengan warna-warna gelap yang menambahkan atmosfer suram. Saya tahu kalimat saya yang ini terdengar agak hiperbolik, namun melihat garapan Gustav Insuffer selalu membuat hidung saya mencium bau anyir darah dan bau busuk seonggok mayat yang dilahap belatung. Kalau menurut saya, dia bagaikan Toshihiro Egawa-nya Indonesia. Oke, sekarang kita akan membahas tentang musiknya.

Produksi dari album ini patut diacungi jempol. Semua instrumennya dapat terdengar secara jelas, selain itu, suara yang dihasilkan terdengar seperti perpaduan antara suara old-school death metal dan death metal modern. Perpaduan ini cukup bombastis dan menarik. Saya harap kebanyakan album death metal zaman sekarang memiliki kualitas produksi yang kurang lebih sama dengan album ini.

Bukan hanya produksinya saja yang hebat, namun musiknya juga terdengar hebat. Chaqim Apoy merupakan drummer dari band ini. Suara drumkit-nya mungkin tidak sekeras suara drumkit dari drummer-drummer death metal lainnya, namun ia tetap memiliki kemampuan drumming yang sangat mumpuni. Permainan drumnya terdiri dari gebukan drum berkecepatan sedang dengan pattern agak rumit, sesekali diiringi dengan blast beat yang terdengar sangat brutal dan old-school yang menjadi pengiring yang brilian. Sebagai contoh, kita dapat mengambil lagu "Onslaught of Psychopath". Saya dapat memastikan Apoy dapat membuat malu bahkan drummer-drummer setingkat Flo Mounier dan Inferno.

Joely Jasta, sang bassist, banyak memainkan riff-riff tebal yang kebanyakan mengikuti permainan gitar, namun juga menambah kesan suram dari album ini. Sesekali, kita juga dapat mendengar riff yang cenderung groovy, seperti di lagu "Darah Itu Merah Jenderal".

Yang paling menarik dari album ini adalah peran Willy Kizl sebagai vokalis sekaligus gitaris band ini. Vokal growl-nya mengandung amarah yang mendalam, bagaikan seorang psikopat. Memang, vokalnya tidak bervariasi, namun performanya tetap hebat. Saya tidak tahu apakah album ini dinamakan "Onslaught of Psychopath" karena vokalnya terdengar seperti berasal dari seorang psikopat, namun saya akui, saya belum pernah mendengar vokal growl yang secara menakjubkan emosional seperti ini. Permainan gitarnya pun juga tak kalah menakjubkan. Willy banyak terpengaruh dari band-band beraliran old-school seperti Suffocation, namun juga menambahkan permainan yang sangat orisinal. Perpaduan ini menghasilkan musik yang cemerlang, dimana kita dapat mendengarkan sebuah band yang memiliki jiwa old-school tanpa harus mengorbankan orisinalitas musikal sama sekali. Riff-riff yang dimainkan Willy cenderung bertempo cepat dengan teknikalitas di atas rata-rata, sebagai presentasi dari old-school death metal, namun sesekali ia juga memainkan riff-riff lambat seperti di "Onslaught of Psychopath". Bahkan, ia juga menyempatkan diri memainkan riff slam di lagu "Venomous Suicide Victim". Tidak banyak band old-school death metal yang menambah variasi musiknya dengan riff slam, jadi ini cukup mengejutkan saya.

Namun, bagian yang paling saya sukai dari album ini adalah solo gitarnya yang cantik dan gila-gilaan pada waktu yang sama. Mereka mengingatkan saya pada band-band death metal asal Florida. Saya terutama suka dengan solo gitar di lagu "Carcass Carcass Carcass". Sekali lagi, saya tahu saya melebih-lebihkan saja, namun solo gitar di album ini terdengar seperti ratapan bidadari yang sedih oleh seluruh kekejaman yang terjadi di muka bumi.

Dengan mahakarya mereka ini, Kerangkenk berhasil mengukir nama mereka dalam sejarah death metal Indonesia sebagai salah satu band old-school yang patut diperhitungkan. Penggemar old-school death metal dari seluruh dunia perlu mengetahui Kerangkenk.

https://id-id.facebook.com/KERANGKENK
http://www.reverbnation.com/kerangkkenk
https://twitter.com/kerangkenk

(English)

It was not until recently where I realized that Indonesia starts spawning several old-school death metal bands, while one such band, Kerangkenk, puts me in interest a lot. As a new kid jumping on the Indonesian metal bandwagon, I was pretty surprised that they have been in existence since 1994, despite splitting-up in 2001 and getting reformed in 2006. As a 2-decade-old band, it's obvious that they have spilled a lot of blood, sweat and tears. And with their debut album (and so far, their masterpiece) "Onslaught of Psychopath", they have proven that they're one of the toughest Indonesian death metal bands and all the blood, sweat and tears they have spilled pay up. Absolutely.

The guy behind the cover art is Gustav Insuffer (real name Gustaman Hendi), who is best described as Indonesian Toshihiro Egawa. As with all his other arts, this one depicts a bloody and inhuman cruelty spiced up with dark colors that add to the unsettling atmosphere of the album. I know I am absolutely being hyperbolic right now, but every time I see a Gustav Insuffer's work (including this one), I am able to smell fresh blood, as well as a rotten, maggots-infested corpse nearby. Okay, we'll stop talking about him now and start talking about the music instead.

The production of the album is already a prestige. Everything can be heard clearly, besides, the sound is somewhere between old-school death metal and modern death metal. The combination is absolutely bombastic and interesting. I wish more modern death metal bands adopted the production quality this album possesses.

Not only is the production great, so is the music. Chaqim Apoy is the drummer of this band. His drumkit may not sound strong enough, but his wicked drumming skills really pay up. His drumming consists of mid-paced rhythms with complex patterns, accompanied with brutal yet old-school blast beats that sound really brilliant, like in the titular song. He would give the likes of Flo Mounier and Inferno a run on their money.

Meanwhile, the bass is played by a guy who goes by a name Joely Jasta. Hi there, Jasta! Is playing in Hatebreed with your brother Jamey boring enough that you finally decided to play in an Indonesian band? But, in all seriousness, he plays thick riffs which, while mostly following the guitars, add to the atmosphere of the music. Occasionally, his play can get groovy too, like in the song "Darah Itu Merah Jenderal".

Best of all are Willy Kizl's guitar work and vocals. His growls contain a profound anger like a psychopath. Sure, he doesn't add variety to his vocals, but the performance is still great. I'm not sure if they gave this album the name "Onslaught of Psychopath" for the fact that Willy growls like a fucking psychopath, but all I know is that his growls are amazing and emotional, unlike most other brutal death metal vocalists I've ever heard before. His guitar work is even more exciting than his growls. Willy is widely influenced by old-school death metal bands such as Suffocation, while also adding some original songwriting. This results in a moment full of excellence, where we can see that an old-school death metal band can still come up with an original songwriting despite the old-school sound they have. Willy usually plays fast-paced riffs with an above average level of technicality, but he also slows down occasionally, with the titular song being an excellent example of this. What surprises me most is when he plays some straight dirty slam riffs in the song "Venomous Suicide Victim". As far as I know, Kerangkenk is the only modern-time old-school death metal band ever to play slam riffs.

However, the guitar solos here are the part I like most. They sound beautiful and wicked at the very same time. They sound like something a Florida death metal band would come up with. I especially like the ones in the song "Carcass Carcass Carcass". I know I am being hyperbolic again, but these solos sound like a wailing of an angel who is saddened by various cruelties happening in our Earth. As a fun fact to show how wickedly great Willy is, I'll have you know one thing; he is left-handed, which is something rarely heard about a guitarist. To prove my sentence, I have a link to a promotional clip of their song "Carcass Carcass Carcass"; http://www.youtube.com/watch?v=9UaKk-y5c8o

This album is a great onslaught, and Kerangkenk has carved their name permanently on Indonesian death metal history as one of the best acts that also happen to be old-school. Old-school death metal fans around the world need to know about them.

https://id-id.facebook.com/KERANGKENK
http://www.reverbnation.com/kerangkkenk
https://twitter.com/kerangkenk

Minggu, 01 Februari 2015

Mayat - Timoer Democracy (2006)

Gue mau dikubur di situ kalau gue mati :P (I wanna be buried there if I die :P )
(Bahasa Indonesia)

Mayat adalah sebuah band brutal death metal dari Jakarta Timur. Mereka sudah ada sejak tahun 1994 dan telah merilis dua album full-length dan satu album split. Saya tidak bisa menemukan album full-length pertama mereka yang bertajuk "Aborsi" dan album split mereka yang bertajuk "Total Flagellum Blast", jadi saya hanya akan mengulas album full-length kedua mereka yang bertajuk "Timoer Democracy" dan dirilis oleh Recluse Production, sebuah label asal Singapura.

Kita mulai dengan produksi rekaman album ini. Produksinya cukup apik dan profesional, semua instrumen yang dimainkan dapat terdengar dengan jelas, namun bukan berarti produksinya terdengar terlalu "clean". Justru, produksinya memberi kesan old-school, seakan-akan album ini direkam pada pertengahan tahun 1990-an. Produksinya seolah-olah mengajak pendengar masuk ke sebuah rumah tua dengan galeri besar yang menggambarkan berbagai kejadian mengerikan yang terjadi di rumah tua tersebut. Musik yang dihasilkan juga mengagumkan dan brutal. Sang drummer, Andri Bagol, memainkan irama-irama yang cepat, menaikkan adrenalin, dan cenderung mirip blast beat dengan pola yang sederhana namun berkekuatan penuh, diiringi dengan double bass yang menambah kepadatan musik yang dimainkan oleh Mayat, seperti pada track "Saling Membunuh". Memang, suara snare-nya terdengar sedikit mirip tong sampah, namun setidaknya tidak separah beberapa band lain. Permainan drum Bagol terdengar seperti rentetan tembakan senapan yang memuntahkan peluru-peluru tajam yang menembus tubuh. Namun menurut saya, akan lebih bagus lagi jika Bagol sesekali memperlambat permainan drum-nya. Meskipun demikian, rasanya belum pernah saya mendengar permainan drum se-sadis ini. Bagol mempelajari keterampilan beberapa drummer death metal seperti Chad Walls dari Brodequin dan mengimprovisasinya lebih lanjut dengan intensitas dan kerumitan tingkat tinggi dengan tetap menjaga sikap kompeten sebagai seorang drummer.

Joy Junior, atau pendeknya J'R, adalah vokalis sekaligus bassist dari band ini. Vokal growl-nya sangat dalam, ganas, dan penuh amarah. Liriknya pun bukan lirik sembarangan. J'R menceritakan kebobrokan moral, kekejaman perang dan kebusukan politik. Selain itu, permainan bass J'R terdengar sangat jelas dan tidak kalah dominan dengan instrumen lainnya. Nada yang dimainkannya menambahkan atmosfer mencekam dari musik yang dihasilkan. Bukan hanya itu, permainan bass J'R terkadang bisa menjadi sedikit melodis untuk menambah variasi. Sekarang ini, banyak band brutal death metal yang cenderung tidak mempedulikan permainan gitar bass. Saya berharap, mereka bisa belajar dari Mayat untuk selalu memberi perhatian pada permainan bass.

Permainan gitar Tomy Garcia terinspirasi oleh band-band seperti Brodequin, Terrorizer dan Bloody Gore. Riff-riff yang dimainkannya cepat, intens, dan tidak memberi ampun, tidak ubahnya death metal pada era 90-an. Sesekali, dia juga memainkan riff-riff tidak lazim seperti di track "Kekalahan Dunia Langit" dan "Morale Disgrace", namun riff tersebut tetap bersatu dengan musiknya dengan kompak, sehingga tidak terdengar terlalu aneh. Omong-omong, riff tersebut terdengar seperti Grausig, salah satu band favorit saya. Apakah Tomy juga terinspirasi oleh Grausig? Entahlah, yang penting adalah permainan gitar Tomy sangat apik. Album ini adalah salah satu dari sekian album brutal death metal  yang cukup bagus yang dirilis sebelum Siksakubur merilis album "Tentara Merah Darah" pada tahun 2010.

Pada 17 Juni 2012, gitaris Tomy Garcia menghembuskan nafas terakhirnya. Saya masih tidak tahu apa penyebab kematiannya, namun apapun penyebabnya, saya turut berduka cita. Jasamu dalam skena brutal death metal Indonesia tidak akan pernah dilupakan, Tomy.

(English)

Mayat is a brutal death metal band band from the East Jakarta. They have been around since 1994 and have released two full-length albums and one split album. I cannot find both their debut full-length "Aborsi" and split album "Total Flagellum Blast", so I will review their second full-length, titled "Timoer Democracy" and released by Recluse Production, a Singaporean label.

The production is pretty decent and professional, all the instruments are audible, but it does not possess a sterile clean sound. In fact, the production sounds rather old-school, as if the album was recorded in the 1990's. It feels as if you were inside an old, abandoned house with a gallery which depicts lots of inhuman acts that ever happened there. The music is amusing and brutal as well. The drummer, Andri Bagol, plays fast-paced, adrenaline-inducing rhythms that resemble blast beats with simple patterns yet powerful execution, accompanied with double bass, which adds to the density of the music. The best example of his drumming is the track "Saling Membunuh". Sure, the snare has that thudding sound, but it's not as bad as many other bands. Bagol's drumming sounds like a bunch of long, rapid shots which spew forth sharp bullets, but it would have been a little bit better if Bagol occasionally slowed down his drumming. That being said, I think Bagol is the most savage brutal death metal drummer ever in existence. He takes the skills of drummers like Chad Walls of Brodequin and improves them with a high level of intensity and complexity, while still retaining the competency of a drummer.

Joy Junior, or J'R for short, is the vocalist and bassist of the band. His growls are deep, vicious, and furious. Not only that, he also sings about moral breakdown, cruelties of war, and how putrid politics are. These lyrical themes are the icing on the cake. His bass is also pretty prominent. It adds to the eerie atmosphere of the music. Sometimes, J'R's performance hints a few melodies which add to the variety. Nowadays, many brutal death metal bands overlook bass guitar performance. I hope they learn from Mayat when it comes to bass performance.

A guy called Tomy Garcia plays the guitars here. He is influenced by bands like Brodequin, Terrorizer, and Bloody Gore. He plays fast, intense and merciless riffs that sound like they came straight from the 1990's. Occasionally, Tomy also plays unusual riffs like in the songs "Kekalahan Dunia Langit" and "Morale Disgrace", which add well to the music. Speaking of which, they remember me of an old Indonesian death metal Grausig. Has Grausig influenced Tomy in the guitar work? I don't know, but obviously, Tomy's guitar work is just epic. Timoer Democracy is one of the best Indonesian brutal death metal albums ever released in the 2000's, before Siksakubur released their awesome "Tentara Merah Darah" in 2010.

On June 17th 2012, guitarist Tomy Garcia died. I have yet to know the cause of his death, but whatever the cause is, I would like to say rest in peace. Tomy's contribution to the Indonesian brutal death metal scene sure is overlooked, but it lives forever in my heart.